copas dari : http://cahayarumah.multiply.com/journal/item/107/Mengajari_Anak_untuk_Berfikir_Kreatif
abdulazis.com, Berfikir, sebuah aktifitas yang dapat menjadikan seorang manusia lebih mulia daripada malaikat atau lebih hina dari hewan piaraan. Lebih mulia dari malaikat ketika aqalnya digunakan untuk berfikir maksimal demi kebaikan diri, keluarga dan masyarakat dan agamanya dan Lebih hina dari hewan piaraan ketika anugerah aqalnya tidak digunakan secara maksimal untuk kebaikan.
Berfikir perlu dilatih sejak dini kepada anak-anak kita dan pendidikan akan hal ini tetap menjadi tanggung jawab orang tua dan kita tidak dapat berharap kepada pola pendidikan di Indonesia yang cenderung mengajari anak untuk menghapal dan bukan berfikir.
Hal yang sering dikeluhkan guru dalam membimbing siswa ialah kenyataan bahwa bagi mereka lebih mudah mengajari anak didik dengan mendikte daripada merangsang anak untuk berpikir kreatif. Sebagai contoh, membahas contoh soal yang dipersiapkan sebelumnya untuk test di kelas adalah lebih mudah daripada menyuruh anak untuk membuat/mencari sendiri contoh soal.
Berfikir tidak hanya berfikir, tapi juga harus KREATIF ya…KREATIF, karena dengan kreatif, anak-anak kita akan mudah mengikuti perkembangan jaman.
Pada kenyataannya, anak-anak bisa diajari untuk berpikir kreatif. Berpikir kreatif ini biasanya didapat dari pengalaman. Anak yang mempunyai banyak pengalaman dalam suatu hal akan lebih berpikir kreatid dibandingkan dengan anak-anak lain di bidang tersebut. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua atau guru untuk memberi banyak pengalaman bagi anak-anaknya, sehingga mereka mudah dan terbiasa untuk belajar berpikir kreatif, mengevaluasi keadaan sekeliling, memfokuskannya pada aspek yang paling penting, memutuskan apa yang harus dilakukan dan bagaimana untuk melakukannya, dan sebagainya.
Berikut ini adalah tips-tips yang dapat dipakai untuk merangsang anak berpikir kreatif:
1. Mengajar keterampilan berpikir dalam konteks aktifitas sehari-hari di rumah atau disekolah.
Hal ini dapat dilakukan secara dini, misalnya dengan membiasakan bertanya apa yang disini terkenal dengan sebutan 5W (Who, What, Where, When, dan Why) ketika membacakan cerita untuk mereka. Hal ini akan mendorong anak untuk mengembangkan verbal skill mereka dan juga membantu mereka untuk belajar berpikir.
2. Dorong anak-anak untuk belajar memadu atau menggabungkan (match) kata kata atau benda sesuai dengan hubungannya.
Sebagai contoh, beri anak-anak beberapa alat-alat tulis, alat-alat dapur, dan lain-lain. Kemudian, minta anak untuk memilah-milah benda-benda tersebut sesuai dengan grupnya (alat-alat tulis, alat-alat dapur, dsb.). Dengan cara ini mereka belajar untuk mengidentifikasi hubungan antara kata dan konsep (apakah kesamaan dua benda secara umum dan apa perbedaannya) .
3. Dorong anak untuk berpikir kritis.
Ajarilah anak-anak untuk mengajukan pertanyaan tentang apa saja yang mereka dengar atau mereka baca. Misalnya, “Mama, apakah ini lumrah?, “apakah ini memang harus begitu ?,Mengapa harus begitu?? dan sebagainya.
4. Ajari anak bagaimana menjawab atau mengatasi suatu masalah sebagai berikut:
- Pertama, mereka harus mengidentifikasi permasalahan yang mereka hadapi, apa yang mereka ketahui dan apa yang tidak mereka ketahui, dan apa yang harus dilakukan.
- Kedua, pikirkandan catat langkah-langkah apa yang perlu untuk mengatasi permasalahannya
- Ketiga, laksanakan rencana itu dan
- Keempat, evaluasi
5. Bantu anak untuk mengembangkan imajinasinya dengan membayangkan sesuatu seolah-olah nyata.
Hal ini akan membantu anak menyimpan informasi dalam memori. Sebagai contoh: anak yang belajar tentang gurun Sahara, akan bertanya untuk melihatnya, untuk menyentuh pasir, mendengar deru angin, dan merasakan panas dan hausnya padang pasir. Pendekatan ini menggunakan strategi memori untuk berpikir secara terperinci.
6. Beri anak-anak dengan tugas-tugas (project) yang merangsang kreatifitas mereka.
Biarkan mereka bekerja dengan versi mereka, baru kemudian dibetulkan dan dibimbing.
7. Ajari anak-anak untuk melakukan sesuatu sesuai dengan prosedur/aturan yang benar.
Misalnya, bagaiman cara membaca peta, bagaimana menggunakan operasi aritmetika, menggunakan mikroskop, dan lain-lain. Tunjukkan contoh penggunaannya.
8. Doronglah anak untuk mencapai target dengan waktu yang ditentukan, dan tulislah target-target tersebut dan awasi perkembangannya.
9. Bantulah mereka untuk belajar bagaimana menemukan point terpenting dari apa yang mereka baca, yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar.
10. Doronglah anak-anak untuk menulis, misalnya menulis surat ke nenek, ke teman, dan sebagainya.
Hal ini sangat penting karena dengan menulis sesuatu di kertas, akan mendorong anak untuk berpikir secara teratur (organized).
Mudah-mudahan tips-tips ini bermanfaat bagi kami dan para orang tua yang bermimpi untuk menjadikan putra-putrinya sebagai penerus perjuangan para pahlawan terdahulu dan pendiri bangsa ini.
#Salman Al Muhandis#
sumber:
“A Child Worlds” oleh Diane E.Papalia dan Sally Wendkos Olds
(Dengan sedikit tambahan dan editan seperlunya)




